Humorisme: Tes Kepribadian Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis

Ada yang bertanya melalui akun Instagram saya dan meminta penjelasan mengenai tipologi kepribadian sanguinis, melankolis, koleris, dan phlegmatis.

Pertama-tama, kita perlu memahami dulu sejarah dari tipologi kepribadian ini. Jauh ke masa lalu, sekitar abad 18-an, ketika psikologi masih belum menjadi ilmu yang berdiri sendiri dan masih menjadi bagian dari filsafat dan fisiologi, dikenal sebuah pendekatan yang disebut sebagai humorisme. Humorisme di sini bukan berbicara tentang komedi tentunya, tetapi berbicara tentang cairan tubuh yang dominan pada tubuh manusia dan bagaimana cairan tubuh tersebut memengaruhi kesehatan maupun temperamen seseorang. Cairan tubuh yang dominan akan membentuk temperamen tertentu. Keempat cairan tubuh tersebut adalah:

1. Darah atau “Sanguine”

Seseorang yang bertipe sanguinis memiliki watak yang ceria dan aktif. Ia senang dengan keramaian dan menjadi pusat perhatian. Cenderung cerewet dan berbicara sebelum bertindak, seseorang bertipe sanguinis memang spontan dan seolah tidak memiliki rasa lelah.

2. Cairan empedu kuning atau “Choler”

Tipe selanjutnya adalah kolerik. Biasanya orang bertipe kolerik memiliki sifat yang tegas dan berani. Ia tidak segan untuk menyampaikan pendapat serta keputusannya, sekalipun ia tahu pendapatnya mungkin akan ditolak oleh orang lain. Cenderung agresif dan tidak segan untuk berkonflik, tetapi seseorang dengan tipe koleris memiliki kualitas kepemimpinan yang baik.

3. Cairan empedu hitam atau “Melancholy”

Seseorang dengan tipe melankolis memiliki watak yang perfeksionis dan memiliki kemampuan berpikir yang mendalam. Perasaannya peka, namun terkadang kepekaannya tersebut membuatnya mudah tersinggung. Sifatnya yang pesimistis juga membuat seseorang yang bertipe melankolis mudah merasa tertekan.

4. Lendir atau “Phlegm”

Tipe ini dikenal dengan wataknya yang pecinta damai namun cenderung bijaksana. Seseorang yang bertipe phlegmatis adalah tipe yang menghindari konflik dan selalu tenang dalam bersikap. Kadangkala terlalu tenang sehingga dicap pasif dan kurang inisiatif.

Dari keempat temperamen tersebut, tidak ada yang terbaik. Temperamen yang ideal adalah memiliki keempatnya secara seimbang, sesuai konteksnya masing-masing.

humorisme sanguinis koleris melankolis phlegmatis

Sumber gambar: Johann Kaspar Lavater dari https://en.wikipedia.org/wiki/Humorism

Apakah humorisme masih relevan dengan kehidupan sekarang?

Sebenarnya, sekitar tahun 1850an, teori humorisme mendapatkan banyak kritik dan mulai ditinggalkan. Salah satunya adalah karena tidak ditemukannya bukti bahwa cairan tubuh tertentu berkaitan dengan temperamen seseorang. Meski sudah ditinggalkan, namun tipologi kepribadian berbasis 4 tipe ini menjadi inspirasi bagi berbagai tokoh-tokoh psikologi maupun filsuf dalam mendeskripsikan kepribadian manusia. Bahkan istilah sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis masih digunakan secara populer sebagai metafora untuk menggambarkan watak seseorang.

Pada awal tahun 1980an, seorang pembicara publik di bidang pengembangan diri menerbitkan sebuah buku berjudul “Personality Plus” yang membahas keempat tipe kepribadian ini. Buku tersebut menjadi bestseller dunia dan populer di Indonesia pada tahun 1990an hingga awal tahun 2000an. Mungkin anda juga pernah membaca buku tersebut, karena pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Namun, sejauh ini, belum ada lagi penelitian ilmiah terbaru mengenai humorisme. Sehingga apabila saya ditanyakan bagaimana menyikapi tipologi kepribadian ini, saya akan menjawab: jangan diambil terlalu serius, gunakan saja iseng-iseng layaknya kita menyikapi shio, zodiak, atau tes kepribadian non-resmi yang biasanya ada di majalah-majalah.

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Written by Garvin

Psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *