Membatik Ternyata Bisa Menjadi Metode Terapi!

Seperti yang sudah kita tahu, batik merujuk pada kain yang bergambar pola tertentu yang awalnya dibuat secara khusus dengan menggunakan malam atau lilin kemudian diproses dengan cara tertentu. Corak atau gambar pada kain batik beragam, ada yang bertemakan alam, binatang, maupun corak-corak lainnya. Perlahan-lahan, seiring dengan berkembangnya industri batik, proses membatik yang awalnya dilakukan dengan canting secara manual kemudian berkembang dengan metode lain: dari batik cap hingga batik cetak.

Di balik nilai seni, budaya, dan sejarahnya yang tinggi; siapa sangka membatik juga bisa menjadi metode terapi? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang dosen asal  Universitas Islam  Negeri Malang, Akhmad Mukhlis, membuktikan bahwa terapi membatik bisa membantu menurunkan depresi pada narapidana. Lingkungan yang penuh dengan tekanan membuat narapidana seringkali merasa depresi, dan setelah para narapidana tersebut mengikuti program membatik selama dua minggu, tingkat depresi mereka mulai menurun.

Mengapa demikian? Dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Psikoislamika tersebut, terapi membatik memberikan efek yang sama dengan terapi seni yang akhir-akhir ini sedang booming, yakni memberikan kesempatan untuk mengekspresikan emosinya melalui media batik. Hal ini kemudian memberikan efek pelepasan secara emosional.

(Baca juga: belajar mengenali emosi melalui film “Inside Out”)

Juga untuk Skizofrenia

Ternyata sebelumnya juga sudah ada penelitian mengenai efektivitas terapi membatik untuk penyandang skizofrenia. Bagi pembaca yang masih belum familiar dengan istilah tersebut, skizofrenia merupakan gangguan psikologis yang mengubah perilaku serta persepsi penyandangnya, biasanya gangguan persepsi yang terjadi adalah delusi maupun halusinasi. Membatik ternyata juga membantu pasien skizofrenia untuk mengekspresikan emosinya, serta memberikan rasa percaya diri. Selama ini pasien-pasien skizofrenia sering merasa tersisihkan dari lingkungannya sehingga hal ini merusak kepercayaan diri. Melalui membatik, mereka diberikan kesempatan untuk mengekspresikan kembali emosi yang selama ini dipendam diam-diam.

Melatih Kesabaran

Tidak hanya untuk orang-orang dengan permasalahan psikologis, membatik juga memberikan manfaat psikologis bagi orang-orang yang tidak terganggu secara mental. Ternyata batik bisa membantu melatih kesabaran. Seorang pengrajin batik asal Ponorogo, Mariana, meyakini bahwa membatik dapat meningkatkan kesabaran. Hal ini didasari oleh observasi yang ia lakukan terhadap para pengrajin batik yang secara umum adalah orang-orang dengan kesabaran yang baik.

“Membatik itu tidak bisa ngoyo,” ungkap Mariana. Apabila membatik dilakukan secara terburu-buru, maka hasilnya akan tidak bagus. Membatik memerlukan ketelatenan dan kesabaran, dan tidak bisa dipatok, harus selesai berapa lembar dalam sehari. Proses dalam membatik harus dinikmati dengan sungguh-sungguh. Sayangnya, belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan efektivitas membatik terhadap kesabaran.

(Baca juga: efek terapi dari tersenyum)

Perlu Riset Lebih Lanjut

Meski membatik sudah dianggap dapat memberikan efek terapi, namun bukti-bukti ilmiah yang diperoleh dari penelitian masih perlu diperbanyak. Siapa tahu, membatik nantinya bisa menjadi salah satu metode terapi yang populer dan dipraktikkan oleh berbagai lapisan masyarakat, sambil membudidayakan budaya lokal nusantara.

Written by Garvin

Psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *