Mengapa Seseorang Bisa Berbohong?

Apa yang membuat seseorang berbohong? Hal ini menjadi pertanyaan yang terus-menerus dikaji oleh pakar ilmu perilaku. Memelajari manusia dan perilaku berbohong adalah topik yang menarik karena dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 30 November 2018; Garvin (penulis di blogpsikologi.com dan dosen Universitas Bunda Mulia) diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar nasional berjudul “Perilaku Berbohong: Bohong vs Jujur”. Seminar ini diadakan oleh Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, sebuah ikatan institusi pendidikan psikologi yang tersebar dari Sumatra, Jawa, hingga Bali.

“Setiap orang tidak ingin dibohongi, tetapi kalau terdesak malah berbohong,” buka Garvin dalam sesinya.

Dalam paparannya, Garvin menjelaskan bahwa seseorang berbohong karena mempertimbangkan dua aspek, yakni: (1) manfaat dari berbohong, dan (2) risiko dari berbohong itu sendiri. Seseorang akan cenderung berbohong apabila ia tahu kebohongannya lebih memberikan manfaat daripada risiko; dan seseorang akan memilih untuk tidak berbohong apabila ia tahu risiko kebohongannya lebih besar daripada manfaatnya. Risiko yang dimaksud yakni peluang kebohongannya akan ketahuan dan konsekuensi yang harus ia tanggung setelah kebohongannya terbongkar. Model ini disebut sebagai the simple model of rational crime.

Dan Ariely, seorang behavioral economist yang mengkaji perilaku berbohong, hendak menguji kesahihan dari simple model of rational crime tersebut. Dalam paper-nya yang berjudul “The Dishonesty of Honest People: A Theory of Self-Concept Maintenance”, Ariely menemukan bahwa ternyata manusia tidak hanya mempertimbangkan faktor manfaat dan risiko untuk menentukan apakah ia akan berbohong atau tidak. Hal ini ia peroleh setelah melakukan eksperimen menggunakan matriks yang ia terapkan pada puluh ribuan mahasiswa. Hasilnya, peningkatan manfaat tidak membuat mahasiswa berbohong lebih banyak.

Melalui serangkaian eksperimen berikutnya, Ariely akhirnya menemukan faktor lain: konsep diri. Selain mempertimbangkan manfaat dan risiko, seseorang juga mempertimbangkan konsep dirinya. Misalnya, seseorang tidak akan mudah berbohong kepada orang buta, padahal risiko berbohong pada orang buta sangat kecil. Mengapa orang-orang tidak melakukannya? Karena orang-orang memiliki konsep diri dan ingin menjaga konsep diri tersebut. Manusia tidak ingin memandang dirinya secara negatif. Oleh karena itu, apabila kebohongan itu dianggap bertentangan dengan nilai hidupnya dan menimbulkan pandangan negatif terhadap dirinya sendiri, ia cenderung tidak akan melakukan kebohongan tersebut. Sederhananya, seseorang akan berbohong apabila kebohongan itu tidak melukai konsep dirinya; dan ia akan tidak berbohong apabila kebohongan itu membuat ia memandang dirinya sendiri secara negatif.

Eksperimen selanjutnya lebih menarik: meminta mahasiswa untuk membaca 10 Hukum Taurat (eksperimen ini dilakukan di negara kristiani, sehingga yang digunakan adalah Hukum Taurat) sebelum ujian ternyata bisa menurunkan kecenderungan berbohong / berbuat curang! Demikian juga apabila mahasiswa diminta membaca sumpah integritas mereka. Hal ini terjadi karena seseorang akan merasa bersalah apabila ia sudah membacakan janji agama / integritas mereka, kemudian melanggarnya.

Seminar ini berlangsung dengan meriah, lengkap dengan gaya pembawaan Garvin yang seringkali melempar candaan, interaktif, dan apa adanya. Sesi tanya jawab pun diwarnai dengan berbagai macam pertanyaan.

Oh iya, Garvin juga menceritakan keresahannya mengenai topik berbohong yang justru jarang diteliti oleh ilmuwan dari kalangan psikologi. Referensi-referensi yang ia gunakan dalam seminar ini justru berasal dari jurnal penelitian ilmu manajemen dan pemasaran. Mungkin seminar ini bisa mengawali semangat bagi para penggemar ilmu psikologi untuk mulai lebih sering mengkaji tentang perilaku berbohong. (gg)

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Written by Garvin

Psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *