Nakal Supaya Keren? Gaya Boleh, Bodoh Jangan! (Liputan Seminar Remaja 31 Oktober 2018)

Dalam rangka hari kesehatan mental dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018 kemarin, Puskesmas Kecamatan Pademangan bekerjasama dengan Universitas Bunda Mulia untuk mengadakan Youth Expo 2018 dengan tema “Remaja Sehat, Remaja Hebat”, di mana salah satu acaranya adalah seminar kesehatan mental untuk remaja.

Seminar ini dihadiri oleh lebih dari 400 pelajar dari berbagai sekolah di Jakarta Utara dan dibuka oleh Wakil Walikota Jakarta Utara, Drs. H. Husein Murad, M.Si. Setelah berbagai seremoni pembukaan, seminar diawali oleh pembicara pertama, Garvin, M.Psi., Psikolog, dosen psikologi Universitas Bunda Mulia sekaligus penulis di blogpsikologi.com.

Nakal itu Tidak Keren!

“Dulu juga saya pikir menjadi nakal itu keren, tetapi sekarang saya pikir-pikir lagi, tidak keren.” Begitu Garvin membuka materi.

“Ada teman saya senang meminum bir dan merokok, sekilas memang nampaknya keren. Jantan sekali. Tetapi sekarang ia mengalami kerusakan hati dan paru-paru, apakah itu masih keren?” Tanya Garvin kepada para peserta.

“Tidak!!!!” Jawab para peserta itu serentak.

“Demikian juga dengan tawuran. Apa kerennya? Solidaritas? Ingin menjaga nama sekolah?  Salah, bro! Justru dengan tawuran kita memalukan nama sekolah kita! Apalagi kalau sampai memakan korban jiwa. Tidak ada keren-kerennya!

Kalau mau keren dan mengharumkan nama sekolah, buatlah prestasi! Tidak usah muluk-muluk, yang sesuai bakat saja. Yang suka main bola, juarai dong pertandingan bola. Dari tingkat wilayah, nasional, lalu internasional. Yang suka main game, sekarang pertandingan e-sports sudah banyak, ikut dan menangkan! Itu baru keren!” Tambah lagi Garvin di tengah-tengah seminar.

Adapun dalam seminar ini, Garvin berusaha untuk mengubah pola pikir remaja. Banyak remaja yang menganggap bahwa tindakan kenakalan seperti mengonsumsi miras, merokok, dan berkelahi adalah hal yang dianggap keren. Padahal, tindakan seperti itu merugikan banyak pihak dan justru dipandang negatif oleh orang lain.

Wanita Menjaga  Diri, Pria Sejati Menjaga yang Dicintai

Selanjutnya memasuki materi tentang cinta dan seksualitas. Topik ini menarik karena memang aktual dialami oleh para remaja. Dimulai dari membahas mengenai perlu atau tidaknya pacaran.

“Buat cewek-cewek, saya kasih tahu ya di sini, jangan dengerin gombalan cowok! Saya cowok, tapi saya bocorin rahasia kita di sini. Kadangkala apa yang cowok ucapkan itu sebenarnya hanya sekadar lewat, tetapi oleh para perempuan seringkali dianggap serius. Dan gawatnya, banyak cowok yang menggunakan kelemahan perempuan ini untuk mendapatkan manfaat!”

“Wanita yang baik itu menjaga diri. Rugi kalau sampai menyerahkan kehormatan! Putus sekolah, menjadi bahan omongan orang, dipandang negatif, belum lagi harus rusak masa depannya. Jangan mau termakan godaan cowok yang tidak baik!”

“Dan buat cowok-cowok, pria yang keren itu pria yang bisa menjaga orang yang ia cintai, bukan merusaknya! Kalau kamu benar sayang, harusnya kamu jaga, bukan kamu rusak! Buktiin kalian adalah cowok yang keren, pria sejati!”

“Cewek-cewek jangan mau sama cowok yang tidak bisa menjaga kalian!”

Beberapa kali peserta memberikan tepuk tangan meriah, pertanda setuju dengan materi yang diberikan oleh Garvin.

Meriah dan Sukses!

Seminar ini dinilai sukses dan disambut dengan meriah oleh para peserta. Sebagai seorang psikolog yang fokus pada isu-isu remaja, Garvin sudah berulang kali melakukan penelitian mengenai kenakalan remaja. Bahkan salah satu penelitiannya pernah mendapatkan hibah / pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kerapkali Garvin juga diundang untuk memberikan materi pendidikan karakter dan pendidikan seks untuk remaja. Bagi sekolah maupun institusi yang ingin mengundang tim dari blogpsikologi.com untuk memberikan materi mengenai pendidikan seksual maupun pendidikan karakter remaja, bisa menghubungi garvin.goei@gmail.com. Let’s spread the positivity!

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Written by Garvin

Psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *