4 Pelajaran Penting di Balik Film Inside Out, Ternyata inilah Fakta-Fakta mengenai Emosi!

Inside out merupakan salah satu film animasi karya Pixar yang sukses di pasaran. Penontonnya tidak hanya dari kalangan anak-anak, tetapi juga dari kalangan dewasa. Namun film Inside Out ternyata tidak hanya sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga pelajaran psikologis yang bisa kita petik dalam kehidupan sehari-hari. Film ini mengajarkan tentang emosi dan proses pikiran kita, serta bagaimana proses psikologis kita bekerja dalam aktivitas sehari-hari. Muatan psikologis dalam film ini begitu kental, tidak heran sebab di balik pengerjaan film ini, terdapat Paul Ekman yang menjadi konsultan psikologis dalam film ini (Paul Ekman adalah seorang peneliti di bidang emosi dan juga menjadi konsultan dalam serial TV Lie to Me).  Tak heran, film ini menjadi begitu “psikologis”.

Well, pesan dan pelajaran psikologis apa yang bisa kita petik dari film Inside Out? Ini dia:

1. Kebahagiaan bukan hanya dari keceriaan

Salah satu tokoh penting dalam film ini adalah Joy, yang mewakili emosi senang atau ceria dari Riley (tokoh utama dalam film ini). Joy, bersama teman-temannya seperti Sadness (kesedihan), Fear (rasa takut), Disgust (rasa jijik), dan Anger (amarah); merupakan personifikasi dari emosi yang terdapat di dalam proses psikologis manusia. Mereka hidup di dalam pikiran Riley, seorang gadis kecil yang manis dan periang. Dalam film ini, mereka selalu menganggap bahwa Joy merupakan kunci kebahagiaan dari Riley. Keempat teman-temannya selalu mengandalkan Joy, dan Joy juga menganggap bahwa ia harus berperan banyak agar Riley bisa bahagia dan memiliki hidup yang baik. Hal ini membuat mereka selalu ingin membuat Riley mengalami emosi riang gembira (joy). Akibatnya, berbagai masalah timbul. Ketika Riley sedih, ia tidak diizinkan sedih oleh pikirannya, alih-alih ia dipaksakan untuk tetap ceria. Ia pun menjadi tidak dapat menceritakan masalah kepada orangtuanya (karena ia berpikir harus terus ceria) dan masalah pun menjadi semakin berlarut-larut.

Sebuah penelitian psikologis yang dilakukan oleh peneliti dari gabungan berbagai universitas (beberapa di antaranya adalah Yale, Cambridge, dan Harvard) pada tahun 2014 menemukan bahwa merasakan berbagai emosi justru baik bagi kesehatan mental dan fisik kita. Merasakan berbagai macam emosi membuat kita memiliki informasi yang lebih detil dalam setiap situasi, sehingga kita dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan memberikan hasil yang lebih membahagiakan. Kita bisa menyaksikan dalam film Inside Out, ketika Riley melarikan diri dari rumah dan mulai merasakan sedih, marah, dan takut; akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia pun bertemu kembali dengan orangtuanya, dan setelah itu ia lebih merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Pesan: Jadi, jangan memaksakan diri kita untuk ceria! Izinkan diri kita untuk merasakan emosi lain seperti sedih, marah, takut, dan sebagainya – dalam kadar yang sewajarnya. Hal ini dapat membantu kita untuk lebih bahagia.

2. Memaksakan Diri untuk Bahagia bisa Menyebabkan Masalah

Dalam film ini, kita bisa melihat bahwa sumber masalah Riley adalah terlalu memaksakan dirinya untuk bahagia. Pikirannya tidak mengizinkan Riley untuk merasakan sedih, marah, jijik, dan takut; alih-alih ia memaksa Riley untuk terus ceria. Akibatnya, berbagai masalah pun timbul: mulai dari tidak dapat menyatakan kesedihan, tidak dapat menceritakan masalah kepada orangtua, merasa kesepian, merasa sendirian, dan sebagainya. Konflik dalam film ini juga muncul karena Joy ngotot ingin membahagiakan Riley.

Kita perlu memunculkan penerimaan terhadap berbagai situasi di dalam hidup kita. Kadangkala apa yang terjadi pada diri kita tidak dapat kita tolak. Menolaknya hanya akan memunculkan kekecewaan karena situasi tidak akan menjadi lebih baik, dan kita justru menjadi lebih menderita! Solusi yang baik adalah menerima situasi tidak menyenangkan itu, kemudian menerima perasaan-perasaan tidak menyenangkan di dalam diri kita. Berdamai dengan kenyataan dan emosi kita adalah kunci untuk menghadapi kenyataan hidup yang tidak sempurna. Dalam film ini, kita bisa melihat bagaimana akhirnya Riley menjadi lebih bahagia setelah ia bisa menerima kenyataan bahwa ia harus pindah ke San Fransisco; setelah sebelumnya ia berusaha menolak untuk pindah ke San Fransisco dan berbagai masalah pun timbul.

Pesan: Bahagia bukan berarti menolak emosi yang tidak menyenangkan. Kita perlu menerima situasi-situasi yang tidak menyenangkan untuk menjadi lebih bahagia. Menolak kenyataan membawa masalah, sedangkan menerima kenyataan membawa bahagia.

3. Izinkan Kita Merasa Sedih

Joy dan teman-temannya selalu berusaha untuk membuat Sadness (emosi sedih) tidak muncul dalam pikiran Riley. Mereka mencegah Riley untuk merasa sedih dengan berbagai cara. Tujuannya hanya satu: jangan sampai Riley merasa sedih! Mungkin kita juga sering melakukan hal itu pada diri kita.

Tentu saja, menekan kesedihan bukanlah hal yang baik bagi kesehatan psikologis kita. Dalam film ini, Joy sempat merasa penasaran apa sesungguhnya peran dari Sadness. Dalam sebuah adegan, ketika Bing Bong mengalami kejadian mengecewakan, justru Sadness-lah yang berhasil membuat Bing Bong bersemangat kembali, dengan mengizinkan Bing Bong bersedih dan menceritakan kekecewaannya (di sisi lain, usaha Joy dengan mengajak Bing Bong ceria dan bergembira justru tidak berhasil mengobati kekecewaannya). Dalam adegan lain, kita juga melihat bagaimana ketika Riley mampu mengekspresikan kesedihannya ketika kalah dalam pertandingan hockey, ia justru mendapatkan dukungan dan kasih sayang dari orangtua beserta teman-temannya. Bahkan di akhir film, ketika Riley mulai mengizinkan rasa sedihnya muncul, ia justru membatalkan rencananya untuk melarikan diri dari rumah dan kembali kepada orangtuanya.

Pesan: Seringkali kita berusaha menekan rasa sedih. Menyembunyikan kesedihan tidak akan memberikan kita manfaat. Berapa banyak orang yang justru menjadi depresi dan mengalami masalah psikologis karena tidak mampu mengekspresikan kesedihan? Menerima kesedihan dan mengekspresikannya dengan sesuai justru memberikan kelegaan tersendiri bagi kita. Kesedihan adalah bagian dari hidup manusia, izinkan ia untuk muncul dan berdamailah dengannya – tetap dalam kadar yang wajar.

4. Sadari Berbagai Emosi yang Timbul dan Tenggelam di dalam Pikiran Kita

Dalam film ini, emosi manusia dipersonifikasikan dalam lima tokoh: Joy (keceriaan), Sadness (kesedihan), Anger (amarah), Fear (rasa takut), dan Disgust (rasa jijik). Kelima emosi ini memiliki perannya masing-masing dan memengaruhi perilaku manusia. Dalam film ini, kita bisa melihat bagaimana masing-masing emosi dapat muncul dan mengambil alih pikiran kita, menyebabkan kita melakukan perilaku-perilaku tertentu. Tidak ada emosi yang menguasai pikiran kita, mereka hanya bergantian muncul. Joy kadangkala menguasai pikiran Riley, namun kadangkala Sadness juga mengambil alih. Di kesempatan lain, Anger juga bisa menguasai pikiran Riley, dan demikian juga dengan Fear dan Disgust.

Keceriaan yang kita alami bisa hilang dan berganti dengan emosi lain, demikian juga dengan emosi-emosi lainnya. Kita bisa mengalami sendiri bagaimana dalam kehidupan sehari-hari kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan muncul bergantian. Kadangkala kita berada di atas, kadangkala kita berada di bawah. Berbagai emosi menyertai kejadian-kejadian tersebut. Bila kita tidak bisa menyadarinya, maka kita akan dikuasai oleh emosi kita. Jadilah kita layaknya zombie: hidup tetapi sesungguhnya tidak hidup!

Dalam film Inside Out, kita dapat menyaksikan bagaimana Riley terombang-ambing oleh emosinya sendiri. Ia membiarkan Anger mengambil alih, menyebabkan ia melawan orangtuanya dan bertengkar dengan mereka (dalam adegan ini kita bisa belajar, bahwa bertindak dalam keadaan marah adalah hal yang kurang tepat! Berdamai dengan amarah bukan berarti mengizinkan amarah menguasai diri kita). Saya sendiri menyaksikan bagaimana orang yang terlalu larut dalam kegembiraannya justru mengalami kekecewaan yang sangat mendalam ketika sumber kegembiraan itu pergi. Saya juga melihat sendiri bagaimana orang yang terlalu larut dalam kesedihannya justru menyebabkan permasalahan psikologis yang lebih gawat. Ketika hal menyenangkan terjadi dan kita merasakan emosi yang positif, kita perlu menyadari bahwa kejadian ini akan berlalu sehingga kita tidak terlarut dalam kegembiraan ini; pun sebaliknya ketika hal tidak menyenangkan terjadi dan kita merasakan emosi negatif, kita harus menyadari bahwa kesulitan ini pun hanya sementara. Semua emosi-emosi ini hanya datang dan pergi!

Pesan: Sadari dan kenali tiap emosi yang muncul. Dengan menyadarinya, kita bisa lebih tangguh dalam menghadapi hidup, bahwa emosi-emosi itu hanya datang dan pergi. Tidak ada kesedihan, kegembiraan, maupun kekecewaan yang abadi.

Simpulan

Film Inside Out merupakan film yang sangat bagus untuk membantu kita mengenali proses psikologis kita, terutama dalam hal emosi. Bagi orangtua, film ini bisa ditonton bersama anak kemudian didiskusikan bersama agar anak untuk mengajarkan mereka tentang emosi. Bagi guru dan pendidik, film ini bisa menjadi sarana pembelajaran kecerdasan emosi yang menarik dan efektif.

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *