Tahun Baru? Tips agar Resolusi Tahun Baru Kita Lebih Baik dari Sebelumnya…

Kurang dari beberapa hari lagi, kita akan segera memasuki tahun baru 2018.

Biasanya tahun yang baru disambut dengan semua yang “baru”. Semangat baru, kebiasaan baru, impian baru, dan lain-lainnya yang baru. Itulah mengapa orang-orang senang membuat resolusi di tahun baru, meskipun seringkali resolusi tersebut tidak berjalan.

Teringat 1 tahun yang lalu, ketika hendak menyongsong tahun baru 2018, RRI PRO 3 menghubungi saya dan meminta kesanggupan saya untuk menjadi narasumber dalam program mereka mengenai resolusi di tahun baru. Ringkasannya adalah sebagai berikut:

Bagaimana cara menyikapi kegagalan dalam merealisasikan target atau resolusi di tahun baru?

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa 80% dari resolusi tahun baru seseorang gagal di bulan Februari! Data tersebut diungkap oleh U.S. News dan menjadi salah satu fakta yang harus diketahui mengenai resolusi tahun baru. Well, sebenarnya kita tidak boleh menggunakan data tersebut sebagai excuse ketika kita mengalami kegagalan. Tapi dari sana kita bisa memahami bahwa kegagalan dalam merealisasi goal atau resolusi tahun baru adalah hal yang manusiawi.

Sehingga tidak perlu menganggap kegagalan dalam mencapai target sebagai sebuah kegagalan fatal. Faktanya, kegagalan itu manusiawi dan dialami oleh manusia. Dengan menerima kegagalan tersebut, kita bisa menurunkan kadar emosi negatif kita dan berpikir dengan lebih jernih. Jadi, saran pertama dari saya adalah: terimalah kegagalan tersebut, agar emosi negatif kita bisa mereda.

Kedua, jadikan kegagalan tersebut sebagai pembelajaran. Mungkin terdengar klise, tapi memang seharusnya begitu. Dari kegagalan, kita bisa mengetahui strategi apa yang works dan strategi apa yang tidak works. Gunakan kesempatan ini untuk mengevaluasi kembali strategi-strategi kita agar kita bisa meramu strategi baru yang lebih efektif.

Cara untuk membuat target baru kita bisa tercapai…

Meskipun faktanya 80% resolusi gagal di awal tahun, bukan berarti resolusi tahun baru tidak berguna sama sekali. Harvard Health merekomendasikan tiga cara yang bisa kita lakukan agar target dan resolusi tahun baru kita bisa tercapai:

Pertama, tentukan alasan mengapa target tersebut perlu dicapai. Misalnya, dalam konteks resolusi pribadi, kita mentargetkan di tahun 2018 akan lebih sering berolahraga. Mengapa kita harus melakukannya? Misalnya, agar badan lebih bugar sehingga tidak mudah kelelahan, atau agar bisa memiliki bentuk tubuh yang lebih baik, atau agar bisa menjuarai kompetisi olahraga tertentu. Temukan faktor why agar kita bisa termotivasi untuk mencapai target tersebut.

Kedua, agar target bisa lebih mudah tercapai, target tersebut harus didefinisikan secara konkrit dan mendetail. Kalimat “lebih sering berolahraga” adalah kalimat yang abstrak dan tidak terukur. Ganti kalimat tersebut menjadi, misalnya, “Menghabiskan waktu minimal 1 jam di gym setiap hari”, “Berlari minimal 30 menit setiap hari”, “Melakukan push-up minimal 100 kali sehari.” Dengan kalimat yang lebih konkrit dan terukur, kita menjadi lebih mudah untuk mengevaluasi kemajuan kita. Hal ini tentunya akan berdampak secara psikologis, karena kita akan menjadi lebih bersemangat ketika tahu bahwa kita mengalami kemajuan.

Ketiga, beritahukan target kita kepada orang terdekat. Hal ini agar ketika kita mulai kendur dalam berusaha merealisasikan target, orang terdekat dapat mengingatkan kita.

Agar kita bisa memotivasi tim kita (sebagai leader) dalam mencapai target baru di tahun yang baru…

Kenapa orang-orang senang membuat resolusi tahun baru? Pergantian tahun memberikan semangat dan harapan baru kepada orang-orang, sehingga secara psikologis orang menjadi senang untuk menentukan target atau goal baru. Oleh karena itu, menyusun target baru dan mengomunikasikannya kepada tim di awal tahun adalah hal yang tepat. Dan faktanya, berdasarkan informasi dari Harvard Health, orang-orang yang memiliki target atau resolusi tahun baru akan lebih achieve daripada orang yang tidak menyusun target.

Seringkali kegagalan terjadi karena target yang ditentukan terlalu tinggi. Misalnya, kembali ke contoh olahraga, misalnya kita menentukan target “Melakukan push-up minimal 100 kali dalam sehari” padahal sebelumnya kita sangat jarang berolahraga. Kemungkinan besar, target tersebut akan langsung gagal dan berdampak terhadap psikologis kita. Ubah target tersebut menjadi lebih realistis, misalnya diawali dengan “Melakukan push-up minimal 20 kali dalam sehari”, kemudian setelah berhasil, maka di bulan selanjutnya bisa ditingkatkan menjadi 40 kali, lalu 60 kali, dan seterusnya. Keberhasilan dalam mencapai target (meskipun target kecil sekalipun) akan memberikan suntikan semangat yang cukup besar, sehingga kita akan menjadi lebih optimis dalam merealisasikan target selanjutnya. Konsep yang sama juga bisa diterapkan untuk target dalam konteks pekerjaan atau bisnis. Buat target yang realistis dan bertahap.

Well, semoga bermanfaat!

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Written by Garvin

Psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas swasta di Jakarta Utara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *