Sudah Pernah Nonton? Tiga Pelajaran Finansial Penting dari Film “Confessions of a Shopaholic”

Film apa yang sering saya putar di kelas untuk mengajar psikologi? Ada banyak, tapi salah satu yang cukup sering saya putar adalah film “Confessions of a Shopaholic” yang menurut saya menarik untuk diputar dan dibahas di dalam kelas. Bagi yang belum pernah menonton, Confessions of a Shopaholic bercerita tentang Rebecca Bloomwood yang sangat gemar berbelanja tanpa memerhatikan kondisi keuangannya. Hobinya ini kemudian membawanya ke dalam lilitan hutang yang sangat besar. Sialnya, tak lama ia dipecat dari pekerjaannya sehingga ia harus mencari pekerjaan baru. Ia diterima di sebuah kantor redaksi majalah tentang cara hidup hemat (di mana sangat kontras dengan gaya hidupnya!) dan tugasnya adalah menulis artikel-artikel tentang hidup hemat. Namun pekerjaannya menghadapi masalah di kala salah satu penagih hutangnya muncul dan mempermalukannya di depan TV nasional. Bloomwood pun kemudian diminta untuk menjalani terapi hingga akhirnya ia berhasil mengatasi shopaholic-nya tersebut. Plotnya sederhana, namun film ini disertai dengan adegan-adegan humor khas kehidupan sehari-hari yang membuat kita betah menontonnya. Nah, pesan apa yang bisa kita petik dari film ini?

1. Hindari Berbelanja secara Impulsif (Spontan)

Kadangkala kita sering berbelanja secara impulsif. Ketika kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kita melihat sebuah barang yang menarik namun tidak berada dalam daftar belanja kita. Karena tertarik, kita langsung membelinya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Hal ini juga yang terjadi pada Rebecca Bloomwood ketika berbelanja barang-barang fashion. Lemari bajunya memang lengkap dan penuh dengan koleksi menarik, tetapi semua itu harus ditebus dengan lilitan hutang yang tidak kira-kira jumlahnya, apakah tebusan itu layak?

Sebelum berbelanja, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: apakah saya akan menggunakannya lebih dari sekali? Apakah membeli barang ini akan memberikan manfaat bagi saya? Apakah ini memang perlu saya beli?

Baik itu berbelanja di pusat belanja ataupun secara online. kita perlu menyadari apa yang akan dan sedang kita beli. Jangan sampai uang kita habis untuk hal-hal yang tidak kita butuhkan.

2. Lunasi Hutang-Hutang Kita Segera, Sebelum Berbelanja Lagi!

Salah satu kesalahan besar Rebecca Bloomwood dalam film ini adalah terus-menerus berbelanja sekalipun ia sudah memiliki banyak hutang. Kartu kreditnya sangat banyak, dan ketika satu buah kartunya mencapai limit ia akan menggunakan kartu lain. Tidak ada usaha sama sekali untuk melunasi hutang-hutangnya. Akibatnya? Tentu saja terlilit hutang!

Orang-orang tua sering mengajari bahwa sebisa mungkin hindari berhutang (termasuk mencicil), kecuali untuk kebutuhan primer seperti mencicil membeli tempat tinggal. Hal ini juga diaminkan oleh para penasihat keuangan. Apabila kita harus membeli suatu barang dengan cara berhutang, itu artinya kita memang belum sanggup untuk membelinya! Berhutang, termasuk menggunakan kartu kredit, seringkali disepelekan dan dilupakan, sehingga hutang itu menumpuk dengan hutang lainnya; atau membengkak karena bunga yang sudah menumpuk. Jangan kaget apabila anda sering mendengar orang-orang yang ‘kabur’ karena terlilit hutang dan tak sanggup melunasinya.

Dan jangan kira kabur bisa menyelesaikan masalah! Kita lihat sendiri bagaimana usaha debt collector mengejar Rebecca Bloomwood sampai-sampai hutang tersebut disiarkan di TV nasional dan karir Rebecca terancam hancur. Di dunia nyata, saya sering sekali mendengar orang-orang yang hidupnya tidak tenang karena kabur dari hutang dan hidup dalam bayang-bayang kejaran debt collector.

Sebelum berhutang, pikirkan apakah kita benar-benar perlu memiliki barang/hal tersebut sehingga harus mendapatkannya melalui hutang. Pastikan hutang tersebut bisa dilunasi secepat mungkin.

Lebih baik lagi, tidak berhutang sama sekali.

3. Jual Barang-Barang yang Sudah Tidak Dibutuhkan

Terlilit hutang, dikejar debt collector, dan pekerjaan diberhentikan dari tempat kerja; lalu bagaimana Rebecca menyelesaikan permasalahannya? Ia harus melunasi hutangnya secepat mungkin, dan salah satu cara yang ia gunakan adalah: mengadakan sale barang-barang bekas dan menjual barang-barang yang sudah tidak ia butuhkan! Uang terkumpul, hutang dilunasi, cinta pun kembali (gimmick khas film drama), masalah selesai.

Tidak ada salahnya kita menjual barang-barang bekas yang masih bagus tetapi sudah tidak kita butuhkan. Selain memberikan kita tambahan uang ‘jajan’, juga membuat barang tersebut berada pada tangan yang lebih membutuhkannya. Ruang di rumah pun menjadi lebih lega. Barang-barang bekas itu bisa pakaian bekas, buku-buku bekas, maupun alat elektronik bekas yang masih berfungsi tetapi sudah amat jarang kita gunakan.

Boleh dicoba: pada akhir pekan ini coba periksa ruangan anda, barang-barang mana yang sudah tidak anda gunakan tetapi masih bisa berfungsi dengan baik. Siapa tahu bisa dijual dan memberikan tambahan uang jajan untuk bulan ini.

Simpulan

Film drama komedi ini memberikan pesan finansial yang berharga. Coba jalankan ketiga pesan tersebut, dan siapa tahu di akhir bulan ini anda menyadari masih banyak uang yang tersisa untuk ditabung?

Berlangganan dan Download E-Book Berkualitas dari Blog Psikologi, Gratis!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *